Public Training vs Inhouse Training: Mana Pilihan Terbaik untuk Perusahaan Anda?

Public Training dan Inhouse Training punya keunggulan masing-masing. Perusahaan perlu cermat memilih sesuai kebutuhan tim dan tujuan pengembangan.

Dalam dunia pengembangan SDM, pemilihan metode pelatihan sangat menentukan efektivitas hasil belajar. Dua pendekatan yang paling umum digunakan perusahaan adalah Public Training dan Inhouse Training. Keduanya sama-sama bertujuan meningkatkan kompetensi karyawan, tetapi memiliki keunggulan, tantangan, dan karakteristik berbeda.

Nisa Dwi Saputri, Business Manager Urways Indonesia, menjelaskan bahwa perbedaan keduanya terletak pada desain pelatihan dan konteks penyampaian. “Public Training ideal untuk benchmarking antar industri, sementara Inhouse Training lebih fokus pada kebutuhan internal perusahaan,” ujarnya.

Keunggulan Public Training

Public Training adalah program pelatihan yang terbuka untuk peserta dari berbagai perusahaan dan industri. Format ini memungkinkan pertukaran perspektif yang luas, diskusi lintas sektor, serta peluang membangun jejaring profesional.

Bagi perusahaan yang ingin memberi paparan eksternal pada karyawannya—terutama untuk posisi manajerial atau pengambil keputusan—Public Training menjadi opsi strategis. Karyawan dapat belajar dari studi kasus nyata di berbagai sektor, sehingga pemahamannya lebih komprehensif.

Namun demikian, tantangannya adalah kurangnya personalisasi. Materi disusun secara umum dan tidak selalu menyesuaikan dengan SOP atau konteks kerja spesifik perusahaan. Selain itu, Public Training biasanya dilakukan di luar kantor, membutuhkan biaya transportasi dan alokasi waktu khusus.

Di sisi lain, metode ini cocok untuk perusahaan kecil atau startup yang belum memiliki divisi pelatihan internal. Dengan biaya lebih terjangkau per individu, perusahaan tetap bisa mengembangkan tim secara bertahap.

Keunggulan Inhouse Training

Berbeda dengan public, Inhouse Training dirancang khusus untuk satu perusahaan. Pelatihan disesuaikan dengan kebutuhan internal, target kinerja, serta kultur organisasi. Biasanya, pelatihan dilakukan di lokasi perusahaan atau secara daring dengan materi yang sangat relevan.

Menurut data internal Urways, 72% klien korporat pada kuartal I 2025 lebih memilih metode inhouse karena fleksibilitas waktu dan kemampuan menyesuaikan kurikulum. Pelatihan jenis ini memungkinkan tim HR dan pimpinan unit kerja ikut merancang struktur pembelajaran agar lebih terintegrasi dengan target strategis perusahaan.

Selain efisien dari sisi biaya jika pesertanya banyak, inhouse juga memungkinkan proses follow-up lebih terukur. Misalnya, setelah pelatihan, peserta langsung diminta menerapkan materi dalam proyek nyata dan hasilnya diukur secara kuantitatif.

Namun tantangannya adalah perlunya persiapan lebih matang. Materi harus didiskusikan dengan trainer, peserta harus komitmen hadir serentak, dan manajemen perlu memastikan waktu pelatihan tidak mengganggu operasional utama.

Pilihan Berdasarkan Kebutuhan

Memilih antara Public Training atau Inhouse Training bukan soal mana yang lebih baik secara mutlak, melainkan mana yang lebih tepat untuk kebutuhan Anda. Jika perusahaan sedang ingin membangun budaya kerja baru atau menyosialisasikan SOP internal, maka Inhouse Training jelas lebih cocok.

Sebaliknya, jika tujuannya memperluas wawasan dan membandingkan praktik terbaik lintas sektor, maka Public Training lebih sesuai. Beberapa klien Urways bahkan menggabungkan keduanya—mengirim beberapa staf ke public training, lalu mengadakan sesi internal untuk membahas implementasinya.

“Tidak ada satu metode yang cocok untuk semua perusahaan. Kuncinya adalah memahami kebutuhan tim dan tujuan jangka panjang dari pelatihan itu sendiri,” tegas Nisa.

Perusahaan juga bisa mengukur efektivitasnya lewat evaluasi hasil training karyawan yang dikembangkan berdasarkan parameter kinerja, peningkatan produktivitas, dan retensi pengetahuan.

Penutup

Baik Public Training maupun Inhouse Training memiliki nilai masing-masing. Yang membedakan hanyalah bagaimana perusahaan menyesuaikan metode dengan tujuan strategis dan sumber daya yang tersedia.

Sebagai lembaga pelatihan, Urways Indonesia menyediakan opsi keduanya dengan pendekatan yang fleksibel dan berbasis kebutuhan. Tim learning & development bisa berdiskusi langsung dengan konsultan pelatihan untuk merancang program terbaik sesuai dinamika industri.

Dengan pendekatan yang tepat, pelatihan bukan hanya menjadi kewajiban tahunan, tetapi investasi jangka panjang dalam membentuk SDM unggul yang adaptif, kompeten, dan relevan menghadapi tantangan bisnis.

Leave a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Open chat
Hello
Ada yang bisa kami bantu?