Sektor energi merupakan salah satu industri dengan tingkat risiko operasional tertinggi. Aktivitas produksi, distribusi, dan pengolahan energi melibatkan teknologi kompleks, lingkungan kerja berbahaya, serta dampak langsung terhadap keselamatan manusia dan lingkungan. Dalam konteks ini, compliance dan safety culture bukan sekadar kewajiban regulasi, melainkan fondasi keberlanjutan bisnis.
Perusahaan energi yang mengabaikan aspek kepatuhan dan keselamatan akan menghadapi konsekuensi serius, mulai dari kecelakaan kerja, sanksi regulator, hingga hilangnya kepercayaan publik. Oleh karena itu, membangun budaya yang menjunjung tinggi kepatuhan dan keselamatan menjadi kebutuhan strategis, bukan pilihan.
Risiko Kepatuhan
Ketidakpatuhan di sektor energi memiliki dampak yang jauh melampaui aspek administratif. Pelanggaran prosedur keselamatan atau regulasi dapat berujung pada insiden fatal, kerusakan lingkungan, dan gangguan operasional berskala besar.
Banyak perusahaan masih memandang compliance sebagai fungsi formal yang hanya melekat pada divisi tertentu. Padahal, kepatuhan di sektor energi harus menjadi tanggung jawab seluruh organisasi, dari manajemen puncak hingga pekerja lapangan. Ketika kepatuhan hanya dipahami sebagai aturan tertulis, risiko pelanggaran justru meningkat.
Regulator seperti Otoritas Jasa Keuangan dan instansi teknis terkait menuntut perusahaan energi memiliki sistem kepatuhan yang terintegrasi. Tanpa pemahaman dan kesadaran yang merata, perusahaan akan kesulitan memenuhi standar tersebut secara konsisten.
Compliance yang lemah pada akhirnya menjadi sumber risiko bisnis yang serius.
Budaya Keselamatan
Safety culture tidak terbentuk hanya melalui prosedur dan peralatan keselamatan. Budaya keselamatan lahir dari sikap, perilaku, dan kebiasaan kerja sehari-hari yang menempatkan keselamatan sebagai prioritas utama.
Di sektor energi, tantangan terbesar adalah memastikan bahwa standar keselamatan dijalankan secara konsisten, terutama di lingkungan kerja berisiko tinggi. Tekanan target produksi sering kali menjadi alasan utama terjadinya kompromi terhadap keselamatan.
Perusahaan yang berhasil membangun safety culture kuat biasanya memiliki komunikasi yang terbuka antara manajemen dan pekerja. Setiap potensi bahaya dilaporkan tanpa rasa takut, dan setiap insiden dijadikan pembelajaran, bukan sekadar mencari kesalahan.
Ketika keselamatan menjadi bagian dari budaya, kepatuhan terhadap prosedur akan berjalan secara alami.
Peran Manajemen
Manajemen memegang peran sentral dalam membentuk compliance dan safety culture. Tanpa komitmen nyata dari pimpinan, kebijakan keselamatan dan kepatuhan hanya akan menjadi dokumen formal tanpa dampak.
Pemimpin di sektor energi harus mampu menunjukkan keteladanan dalam menjalankan prosedur, mengambil keputusan berbasis risiko, serta menegakkan disiplin secara adil. Konsistensi ini akan membentuk kepercayaan dan meningkatkan kepatuhan di seluruh organisasi.
Selain itu, manajemen perlu memastikan bahwa pelatihan keselamatan dan kepatuhan dirancang sesuai dengan karakter risiko perusahaan. Pelatihan yang relevan dan kontekstual akan membantu karyawan memahami alasan di balik setiap aturan.
Dengan kepemimpinan yang kuat, compliance dan safety culture menjadi bagian dari strategi bisnis, bukan sekadar kewajiban.
Tentang Urways Indonesia
Urways Indonesia adalah lembaga pelatihan profesional yang mendukung pengembangan kompetensi organisasi di sektor berisiko tinggi, termasuk industri energi. Program pelatihan Urways mencakup compliance awareness, safety leadership, komunikasi operasional, serta penguatan budaya keselamatan dan kepatuhan.
Melalui pendekatan praktis dan berbasis kebutuhan industri, Urways Indonesia membantu perusahaan energi membangun budaya kerja yang aman, patuh, dan berkelanjutan.



