Dalam industri energi, sustainability tidak lagi dapat diposisikan sebagai isu tambahan atau sekadar bagian dari laporan tahunan. Tekanan publik, regulasi, dan investor menjadikan sustainability sebagai faktor risiko bisnis yang nyata. Perusahaan energi yang gagal mengelola isu keberlanjutan berpotensi menghadapi gangguan operasional, penurunan kepercayaan, hingga ancaman terhadap kelangsungan usaha.
Pendekatan tradisional yang memisahkan sustainability dari strategi bisnis kini tidak lagi relevan. Di sektor energi, keberlanjutan telah menjadi bagian dari manajemen risiko yang harus dipahami dan dikelola secara sistematis.
Risiko Operasional
Aktivitas industri energi memiliki dampak langsung terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar. Ketika aspek keberlanjutan tidak dikelola dengan baik, risiko operasional akan meningkat secara signifikan. Gangguan produksi akibat konflik sosial, protes masyarakat, atau kerusakan lingkungan sering kali berawal dari lemahnya perhatian terhadap sustainability.
Banyak perusahaan masih memandang sustainability sebagai kewajiban administratif. Akibatnya, mitigasi risiko lingkungan dan sosial tidak terintegrasi dalam proses operasional sehari-hari. Pendekatan ini membuat perusahaan rentan terhadap kejadian tak terduga yang dapat menghentikan operasi dalam waktu lama.
Risiko operasional juga berkaitan erat dengan keselamatan kerja dan pengelolaan sumber daya. Tanpa kerangka keberlanjutan yang jelas, pengambilan keputusan jangka pendek sering kali mengorbankan stabilitas jangka panjang.
Dalam konteks ini, sustainability harus dipahami sebagai bagian dari pengendalian risiko operasional.
Tekanan Eksternal
Industri energi menghadapi tekanan eksternal yang semakin kuat terkait isu keberlanjutan. Regulator, investor, dan masyarakat menuntut transparansi serta akuntabilitas dalam pengelolaan dampak lingkungan dan sosial.
Lembaga pengawas seperti Otoritas Jasa Keuangan mendorong perusahaan untuk mengintegrasikan prinsip keberlanjutan ke dalam tata kelola dan pelaporan. Ketidakmampuan memenuhi ekspektasi ini dapat berdampak pada akses pendanaan dan reputasi perusahaan di pasar.
Investor juga semakin mempertimbangkan aspek keberlanjutan dalam pengambilan keputusan. Perusahaan energi yang tidak mampu menunjukkan komitmen nyata terhadap sustainability berisiko kehilangan kepercayaan dan minat investasi.
Tekanan eksternal ini menjadikan sustainability sebagai isu strategis yang tidak dapat dihindari.
Peran Organisasi
Pengelolaan sustainability sebagai risiko bisnis memerlukan keterlibatan seluruh organisasi, bukan hanya unit tertentu. Manajemen puncak memiliki peran penting dalam memastikan bahwa keberlanjutan terintegrasi ke dalam strategi dan budaya kerja.
Tanpa pemahaman yang merata, kebijakan sustainability akan sulit diimplementasikan secara konsisten. Karyawan di berbagai level perlu memahami bagaimana keputusan sehari-hari mereka berkontribusi terhadap risiko dan keberlanjutan perusahaan.
Pelatihan menjadi salah satu alat penting untuk membangun kesadaran dan kapabilitas organisasi. Dengan pendekatan yang tepat, sustainability tidak lagi dipersepsikan sebagai beban, melainkan sebagai bagian dari pengelolaan risiko dan penciptaan nilai jangka panjang.
Organisasi yang siap secara kompetensi akan lebih tangguh menghadapi tuntutan keberlanjutan industri energi.
Tentang Urways Indonesia
Urways Indonesia adalah lembaga pelatihan profesional yang mendukung pengembangan kompetensi organisasi di berbagai sektor strategis, termasuk industri energi. Program pelatihan Urways mencakup sustainability awareness, ESG, tata kelola, manajemen risiko, serta penguatan kapabilitas organisasi.
Melalui pendekatan praktis dan berbasis kebutuhan industri, Urways Indonesia membantu perusahaan energi mengelola sustainability sebagai risiko bisnis sekaligus peluang keberlanjutan jangka panjang.



