Tangerang, 19 Oktober 2025 — Dunia kerja kini tidak lagi hanya berbicara tentang kecepatan dan efisiensi, tetapi juga tentang kecerdasan adaptif manusia terhadap teknologi. Dalam menghadapi Era Industri 5.0, literasi digital untuk karyawan bukan lagi pilihan tambahan, melainkan kompetensi utama yang menentukan keberlanjutan bisnis.
Artikel ini mengulas secara mendalam mengapa literasi digital menjadi pondasi kompetensi baru, bagaimana perusahaan dapat menanamkannya melalui pelatihan yang terarah, dan bagaimana dampaknya terhadap daya saing industri — khususnya sektor consumer non-cyclicals seperti makanan, minuman, dan produk kebutuhan rumah tangga.
Makna Literasi Digital
Dalam konteks organisasi modern, literasi digital tidak sekadar kemampuan menggunakan komputer atau aplikasi. Lebih dari itu, ia adalah kemampuan berpikir kritis dan adaptif terhadap teknologi — memahami informasi digital, menilai keandalannya, serta menggunakannya secara etis dan produktif untuk kepentingan organisasi.
Karyawan di perusahaan consumer goods kini berhadapan dengan arus data, sistem digitalisasi rantai pasok, dan komunikasi berbasis platform online. Tanpa literasi digital, kinerja mereka akan tertinggal, bahkan bisa menjadi penghambat proses kerja.
Pelatihan literasi digital yang efektif harus mencakup tiga aspek:
- Pengetahuan teknis, seperti penggunaan aplikasi bisnis dan sistem ERP.
- Kecerdasan informasi, yaitu kemampuan menyaring dan memvalidasi data digital.
- Etika digital, mencakup tanggung jawab penggunaan teknologi, keamanan data, dan jejak digital yang profesional.
Perusahaan yang berinvestasi pada peningkatan literasi digital karyawan tidak hanya memperkuat kompetensi tim, tetapi juga menciptakan budaya organisasi yang lebih siap menghadapi transformasi. Seperti yang dijelaskan dalam laporan McKinsey (2025), organisasi dengan tingkat literasi digital tinggi memiliki produktivitas 25% lebih baik dibandingkan dengan pesaingnya.
Sebagai lembaga pelatihan, Urways Indonesia berfokus pada penyediaan pelatihan digital yang terukur dan relevan. Melalui program Public Training dan Inhouse Training, perusahaan dapat menyesuaikan kurikulum dengan kebutuhan dan level kompetensi karyawan.
Dampak terhadap Daya Saing
Keterampilan digital memiliki dampak langsung terhadap daya saing perusahaan. Dalam industri yang bergerak cepat seperti FMCG (Fast Moving Consumer Goods), data menjadi aset baru yang menuntut literasi tinggi untuk mengelolanya.
Karyawan yang paham data mampu membaca tren pasar, mengoptimalkan campaign digital, serta menganalisis efektivitas promosi. Artinya, literasi digital bukan hanya urusan IT department, melainkan tanggung jawab seluruh lini — mulai dari produksi, logistik, hingga pemasaran.
Sebuah studi dari Harvard Business Review menunjukkan bahwa perusahaan yang menerapkan digital upskilling program mengalami peningkatan engagement karyawan hingga 33%. Sebab, mereka merasa lebih relevan, lebih produktif, dan lebih dihargai dalam perannya.
Selain itu, literasi digital membantu memperkuat komunikasi lintas departemen. Platform kolaboratif seperti Slack, Notion, atau Microsoft Teams, hanya akan efektif jika karyawan memiliki kemampuan adaptif untuk menggunakannya dengan benar.
Di sinilah peran penting training berbasis praktik, bukan teori semata. Urways Indonesia menyediakan modul pelatihan yang menekankan pengalaman langsung — seperti simulasi digital collaboration dan analisis data dasar. Pendekatan ini memungkinkan peserta belajar melalui situasi nyata yang mereka hadapi di tempat kerja.
Untuk perusahaan yang ingin mengetahui program terbaru kami, silakan kunjungi halaman Jadwal Training 2025 atau hubungi tim konsultan kami di Kontak Urways Indonesia.
Menyiapkan Masa Depan
Era Industri 5.0 membawa misi baru: menyatukan keunggulan manusia dengan teknologi cerdas. Di sini, literasi digital menjadi jembatan antara keduanya.
Bukan hanya soal mampu menggunakan alat digital, tapi juga memahami makna, etika, dan nilai kemanusiaan di balik teknologi.
Karyawan yang memiliki literasi digital kuat akan mampu:
- Mengambil keputusan berbasis data dengan cepat.
- Meningkatkan efisiensi komunikasi lintas divisi.
- Menghindari risiko kesalahan akibat miskomunikasi digital.
- Mengoptimalkan teknologi untuk inovasi dan kreativitas.
Namun, tantangan besar tetap ada: gap kompetensi digital antar generasi. Banyak perusahaan masih menghadapi kesenjangan antara generasi senior yang berpengalaman dengan generasi muda yang melek teknologi. Pelatihan digital yang dirancang inklusif dapat menjadi solusi, menyatukan pengalaman dan semangat inovasi dalam satu platform pembelajaran kolaboratif.
Sebagai bagian dari Corporate Learning Strategy, literasi digital dapat dijadikan indikator utama dalam evaluasi kinerja dan promosi jabatan. Artinya, literasi digital bukan hanya mendukung pekerjaan — ia menentukan masa depan karier seseorang.
Untuk memahami lebih dalam bagaimana literasi digital diterapkan dalam dunia bisnis, Anda dapat membaca publikasi dan insight kami di halaman Publikasi Urways Indonesia.
Penutup
Literasi digital bukan sekadar tren pelatihan, melainkan fondasi kompetensi utama di Era Industri 5.0. Di tengah perubahan yang cepat, perusahaan yang ingin bertahan harus berinvestasi dalam pelatihan yang tidak hanya fokus pada teknologi, tetapi juga pada manusia yang menggunakannya.
Urways Indonesia percaya bahwa pelatihan yang baik bukan hanya mengajarkan keterampilan, tetapi membentuk cara berpikir baru.
Melalui pendekatan integratif yang menggabungkan teknologi, komunikasi, dan pembelajaran berkelanjutan, setiap karyawan dapat tumbuh menjadi aset strategis bagi organisasi.
Era digital telah tiba — dan masa depan hanya akan berpihak kepada mereka yang siap belajar setiap hari.




