Resensi Buku : KOMUNIKASI KONTEMPORER DI ERA DIGITAL: Isu, Strategi, dan Tantangan di Ruang Publik

Resensi Buku

Komunikasi Kontemporer di Era Digital: Isu, Strategi, dan Tantangan di Ruang Publik

Editor: Ujang Rusdianto
Kata Pengantar: Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA., Ph.D.
Tim Penulis:
Achmad; Adhi Gurmilang; Agustin Diana Wardaningsih; Ani Purwati; Arie Prasetio; Djudjur Luciana Rajagukguk; Fatkhul Manan; Gita Ruslita; Graha Wira Krida; Intan Fuji Lestari; Lusiana Indira Isni; Martin Suharto; Rose Emmaria Tarigan; Shofira Pertiwi; Stenus Jacub; Ujang Rusdianto; Wisnu Wardana.

Penerbit: Urways Indonesia Corpora
Tahun Terbit: 2025
Tanggal Terbit: 15 Oktober 2025
Tebal: 597 halaman

Pengantar Umum

Buku Komunikasi Kontemporer di Era Digital: Isu, Strategi, dan Tantangan di Ruang Publik hadir sebagai respons akademik atas perubahan lanskap komunikasi yang semakin kompleks, cepat, dan berlapis di era digital. Transformasi teknologi informasi tidak hanya mengubah medium komunikasi, tetapi juga menggeser relasi kuasa, pola produksi makna, serta mekanisme pembentukan opini publik. Dalam konteks ini, komunikasi tidak lagi sekadar proses penyampaian pesan, melainkan menjadi arena strategis yang menentukan legitimasi, kepercayaan, dan keberlanjutan institusi—baik negara, korporasi, maupun masyarakat sipil.

Disusun sebagai bunga rampai, buku ini menghimpun pemikiran dan hasil riset dari para penulis yang sebagian besar berkolaborasi secara akademik dengan Prof. Dr. Andi Faisal Bakti, MA., Ph.D., baik sebagai pengampu mata kuliah maupun pembimbing penelitian. Keterlibatan figur akademik yang konsisten dalam pengembangan tema memberikan benang merah teoritik sekaligus menjaga kualitas metodologis tulisan-tulisan yang disajikan.

Dengan pendekatan multidisipliner yang memadukan teori komunikasi, kajian media, studi keamanan, hingga pemasaran digital, buku ini menawarkan pembacaan komprehensif atas isu-isu kontemporer yang berkembang di ruang publik digital Indonesia dan global.

Struktur dan Kerangka Tematik

Salah satu kekuatan utama buku ini terletak pada pembagian struktur yang sistematis ke dalam lima bagian tematik. Pembagian ini tidak hanya memudahkan pembaca dalam menavigasi hampir 600 halaman isi buku, tetapi juga mencerminkan upaya konseptual untuk memetakan komunikasi kontemporer berdasarkan kluster persoalan strategis.

Kelima bagian tersebut adalah:

  1. Akuntabilitas, Kepercayaan Publik, dan Pemberdayaan Masyarakat
  2. Politik Digital, Populisme, dan Representasi Gender
  3. Isu Radikalisme, Hoaks, dan Propaganda
  4. Kejahatan Siber, Perdagangan Ilegal, dan Keamanan Digital
  5. Komunikasi, Olahraga, dan Inovasi Pemasaran Digital

Struktur ini menunjukkan bahwa komunikasi dipahami tidak secara sempit sebagai aktivitas media, melainkan sebagai sistem sosial yang berkelindan dengan isu kepercayaan, kekuasaan, keamanan, identitas, dan ekonomi digital.

Bagian 1: Akuntabilitas, Kepercayaan Publik, dan Pemberdayaan Masyarakat

Bagian pertama membuka diskursus dengan menempatkan komunikasi sebagai fondasi kepercayaan publik. Empat tulisan dalam bagian ini menyoroti bagaimana transparansi, akuntabilitas, dan kompetensi komunikasi menjadi prasyarat penting dalam ekosistem digital.

Tulisan Achmad bersama Andi Faisal Bakti mengkaji crowdfunding sosial sebagai praktik komunikasi yang menuntut kepercayaan tinggi. Studi ini menegaskan bahwa keberhasilan penggalangan dana digital tidak hanya bergantung pada narasi empatik, tetapi juga pada tata kelola komunikasi yang transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.

Adhi Gurmilang dan Andi Faisal Bakti kemudian mengangkat isu pelatihan kompetensi komunikasi antarbudaya bagi mahasiswa. Kajian ini relevan dalam konteks globalisasi dan mobilitas digital, di mana kemampuan berkomunikasi lintas budaya menjadi modal strategis, baik bagi individu maupun institusi pendidikan.

Sementara itu, Djudjur Luciana Rajagukguk dan Andi Faisal Bakti menyoroti pemanfaatan Internet of Things (IoT) dalam digitalisasi pemasaran UMKM. Tulisan ini menunjukkan bagaimana inovasi teknologi, jika dikomunikasikan secara tepat, mampu mendorong pemberdayaan ekonomi lokal.

Bagian ini ditutup oleh Rose Emmaria Tarigan dan Andi Faisal Bakti melalui kajian jurnalisme investigatif dalam pengungkapan praktik korupsi. Peran media sebagai pengawas kekuasaan ditegaskan kembali, khususnya di tengah tantangan disrupsi media dan tekanan ekonomi industri pers.

Bagian 2: Politik Digital, Populisme, dan Representasi Gender

Bagian kedua memfokuskan perhatian pada arena politik digital yang semakin cair dan performatif. Empat tulisan dalam kluster ini mengkaji bagaimana media sosial membentuk strategi komunikasi politik, konstruksi citra, dan representasi identitas.

Agustin Diana Wardaningsih dan Andi Faisal Bakti menganalisis penggunaan humor oleh Partai Gerindra sebagai strategi komunikasi politik. Temuan ini memperlihatkan bahwa humor bukan sekadar hiburan, melainkan instrumen persuasi yang efektif dalam menjangkau pemilih muda.

Ani Purwati dan Andi Faisal Bakti mengkaji strategi populisme kandidat 02 dalam kampanye pemilu, khususnya terhadap pemilih pemula. Analisis ini menunjukkan bagaimana narasi populis dikemas secara visual dan emosional di media sosial.

Isu representasi gender diangkat oleh Lusiana Indira Isni dan Andi Faisal Bakti melalui studi kandidat perempuan petahana dalam Pilkada 2024. Kajian ini mengungkap dinamika antara stereotip gender, strategi visual, dan legitimasi politik di Instagram.

Shofira Pertiwi dan Andi Faisal Bakti memperluas cakupan dengan membahas proxy war dan teknologi canggih dalam konteks perang era digital. Tulisan ini menempatkan komunikasi sebagai elemen strategis dalam konflik modern, melampaui batas militer konvensional.

Bagian 3: Isu Radikalisme, Hoaks, dan Propaganda

Bagian ketiga mengangkat isu keamanan narasi dan polarisasi wacana publik. Arie Prasetio dan Andi Faisal Bakti menggunakan pendekatan social network analysis untuk memetakan percakapan tentang terorisme dan Islamofobia di media sosial X. Temuan mereka menunjukkan adanya aktor-aktor kunci yang berperan sebagai penguat dan penyebar narasi ekstrem.

Graha Wira Krida dan Andi Faisal Bakti menyoroti hoaks Rohingya di media sosial yang memicu konflik sosial. Studi ini menegaskan urgensi literasi digital dan tanggung jawab platform dalam mengelola informasi sensitif.

Wisnu Wardana bersama Andi Faisal Bakti mengungkap strategi propaganda jaringan perdagangan narkotika di Jakarta. Tulisan ini memperlihatkan bagaimana teknik komunikasi ilegal memanfaatkan celah teknologi dan psikologi audiens.

Bagian 4: Kejahatan Siber, Perdagangan Ilegal, dan Keamanan Digital

Fokus pada keamanan digital menjadi inti bagian keempat. Fatkhul Manan dan Andi Faisal Bakti membahas perdagangan narkoba sebagai tantangan kerja sama regional ASEAN, menempatkan komunikasi lintas negara sebagai faktor krusial.

Gita Ruslita dan Andi Faisal Bakti mengulas jaringan komunikasi dalam praktik money laundering, memperlihatkan bagaimana komunikasi menjadi instrumen utama kejahatan keuangan.

Intan Fuji Lestari dan Andi Faisal Bakti mengeksplorasi pengawasan digital untuk pencegahan perdagangan manusia, dengan menekankan keseimbangan antara keamanan dan hak privasi.

Bagian ini ditutup oleh Ujang Rusdianto dan Andi Faisal Bakti yang membahas keamanan siber dan perlindungan data di platform e-commerce Tokopedia. Kajian ini relevan bagi praktik komunikasi korporasi dalam membangun kepercayaan konsumen.

Bagian 5: Komunikasi, Olahraga, dan Inovasi Pemasaran Digital

Dua tulisan terakhir menghadirkan perspektif yang lebih kultural dan bisnis. Stenus Jacub dan Andi Faisal Bakti mengkaji ujaran kebencian dalam konteks olahraga melalui studi nyanyian “Yid” di Tottenham Hotspur, memperlihatkan kompleksitas identitas dan solidaritas komunitas.

Martin Suharto dan Andi Faisal Bakti menutup buku dengan analisis inovasi pemasaran digital mobil bekas di YouTube, menunjukkan potensi media video sebagai sarana komunikasi pemasaran yang kreatif dan interaktif.

Penilaian Kritis dan Kontribusi Buku

Secara keseluruhan, buku ini memberikan kontribusi signifikan bagi kajian komunikasi kontemporer, khususnya dalam konteks Indonesia. Kekuatannya terletak pada keberagaman topik, konsistensi kerangka teoritik, serta relevansi praktis bagi akademisi, praktisi komunikasi, pembuat kebijakan, dan pelaku industri.

Sebagai catatan, tantangan utama buku bunga rampai adalah menjaga kedalaman analisis yang merata di setiap bab. Namun, keterlibatan editor dan pengantar akademik yang kuat membantu menjaga kohesi intelektual buku ini.

Kesimpulan

Komunikasi Kontemporer di Era Digital merupakan referensi penting untuk memahami dinamika komunikasi di ruang publik digital. Buku ini tidak hanya memotret fenomena, tetapi juga menawarkan kerangka analitis untuk membaca strategi, risiko, dan peluang komunikasi di masa depan. Dengan terbit pada 15 Oktober 2025, buku ini layak menjadi rujukan utama dalam studi komunikasi, khususnya bagi mereka yang bergelut di ranah Corporate Communication, kebijakan publik, dan komunikasi strategis.

Share:

More Posts

Send Us A Message

Open chat
Hello
Ada yang bisa kami bantu?