Perusahaan oil and gas beroperasi dalam lingkungan yang kompleks, berisiko tinggi, dan sangat teregulasi. Tekanan untuk meningkatkan efisiensi, menjaga keselamatan kerja, serta memastikan kepatuhan membuat digitalisasi proses kerja bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan strategis. Digitalisasi yang tepat mampu membantu perusahaan mengelola operasi secara lebih terkendali dan transparan.
Namun, banyak inisiatif digital di sektor oil and gas tidak berjalan optimal. Tantangan sering kali bukan terletak pada teknologi, tetapi pada kesiapan proses kerja dan sumber daya manusia yang menjalankannya.
Kompleksitas Operasi
Operasi oil and gas mencakup berbagai aktivitas yang saling terhubung, mulai dari eksplorasi, produksi, hingga distribusi. Setiap tahapan melibatkan data besar, prosedur ketat, dan koordinasi lintas fungsi yang intensif. Tanpa dukungan sistem digital yang memadai, risiko kesalahan dan keterlambatan akan meningkat.
Digitalisasi proses kerja memungkinkan integrasi data secara real time, sehingga pengambilan keputusan menjadi lebih cepat dan akurat. Sistem digital juga membantu meningkatkan visibilitas operasional, terutama di lokasi terpencil yang sulit diawasi secara langsung.
Namun demikian, penerapan teknologi tanpa penyesuaian proses sering kali menimbulkan resistensi. Ketika digitalisasi tidak selaras dengan pola kerja lapangan, manfaat yang diharapkan justru tidak tercapai.
Oleh karena itu, strategi digitalisasi harus dimulai dari pemetaan proses kerja yang matang.
Tantangan Implementasi
Salah satu tantangan utama digitalisasi di perusahaan oil and gas adalah kesiapan organisasi. Perubahan sistem kerja sering kali dihadapkan pada budaya lama yang sudah mengakar, terutama di lingkungan operasional dengan tingkat risiko tinggi.
Selain itu, aspek kepatuhan dan pengawasan juga menjadi perhatian penting. Digitalisasi harus tetap sejalan dengan standar regulasi dan pelaporan yang ditetapkan oleh otoritas terkait seperti SKK Migas. Ketidaksesuaian sistem dapat menimbulkan risiko kepatuhan yang baru.
Kurangnya pemahaman pengguna terhadap sistem digital juga menjadi hambatan. Tanpa pelatihan yang memadai, teknologi justru berpotensi menambah beban kerja dan memicu kesalahan operasional.
Tantangan ini menunjukkan bahwa digitalisasi bukan sekadar proyek teknologi, melainkan transformasi cara kerja.
Peran SDM
Keberhasilan digitalisasi proses kerja sangat ditentukan oleh kesiapan sumber daya manusia. Karyawan di berbagai level perlu memahami tujuan digitalisasi dan bagaimana sistem baru mendukung keselamatan serta efisiensi kerja mereka.
Pelatihan menjadi elemen kunci dalam memastikan adopsi teknologi berjalan efektif. Pendekatan pelatihan yang kontekstual dan berbasis risiko akan membantu karyawan oil and gas beradaptasi tanpa mengorbankan standar keselamatan dan kepatuhan.
Manajemen juga memiliki peran penting dalam mendorong perubahan. Keteladanan dalam penggunaan sistem digital dan komunikasi yang jelas akan membangun kepercayaan serta mengurangi resistensi di lapangan.
Dengan SDM yang siap, digitalisasi akan menjadi alat penguat operasi, bukan sumber masalah baru.
Tentang Urways Indonesia
Urways Indonesia adalah lembaga pelatihan profesional yang mendukung pengembangan kapabilitas organisasi di sektor energi, termasuk oil and gas. Program pelatihan Urways mencakup digital mindset, change management, komunikasi operasional, serta penguatan kompetensi SDM dalam menghadapi transformasi digital.
Melalui pendekatan praktis dan berbasis kebutuhan industri, Urways Indonesia membantu perusahaan oil and gas mengimplementasikan digitalisasi proses kerja secara efektif, aman, dan berkelanjutan.



