Resilience Skills in the Workplace

Rentang harga: Rp4,000,000 hingga Rp6,500,000

Lingkungan kerja terus menghadapi perubahan target, tuntutan pekerjaan, ketidakpastian, serta dinamika organisasi yang dapat memengaruhi cara profesional menjalankan tanggung jawabnya. Dalam kondisi tersebut, kemampuan mempertahankan fokus, mengelola tekanan, dan menyesuaikan diri menjadi bagian penting dari kinerja profesional.

Tekanan kerja juga dapat memengaruhi komunikasi, pengambilan keputusan, produktivitas, dan hubungan dalam tim. Karena itu, profesional membutuhkan kemampuan untuk merespons tekanan secara konstruktif serta menjaga kualitas kinerja ketika menghadapi perubahan atau situasi yang menantang.

Pelatihan ini membantu peserta membangun workplace resilience melalui pemahaman mengenai respons terhadap tekanan, pola pikir adaptif, regulasi emosi, pengelolaan energi, dan kemampuan beradaptasi. Selanjutnya, peserta menerapkan konsep melalui refleksi, self-assessment, studi kasus, simulasi, dan role play. Dengan pendekatan tersebut, peserta dapat menyusun strategi pribadi untuk mempertahankan efektivitas kerja dalam situasi yang dinamis.

Resilience Skills in the Workplace

Level: Intermediate
Durasi: 2 Hari | 12–14 Jam Pembelajaran
Format: Public Training, In-House Training, dan Online Training
Fokus: Workplace Resilience, Adaptability, Stress Management, Emotional Regulation, dan Resilient Performance

Mengapa Mengikuti Pelatihan Ini

Lingkungan kerja terus menghadapi perubahan target, tuntutan pekerjaan, ketidakpastian, serta dinamika organisasi yang dapat memengaruhi cara profesional menjalankan tanggung jawabnya. Dalam kondisi tersebut, kemampuan mempertahankan fokus, mengelola tekanan, dan menyesuaikan diri menjadi bagian penting dari kinerja profesional.

Tekanan kerja juga dapat memengaruhi komunikasi, pengambilan keputusan, produktivitas, dan hubungan dalam tim. Karena itu, profesional membutuhkan kemampuan untuk merespons tekanan secara konstruktif serta menjaga kualitas kinerja ketika menghadapi perubahan atau situasi yang menantang.

Pelatihan ini membantu peserta membangun workplace resilience melalui pemahaman mengenai respons terhadap tekanan, pola pikir adaptif, regulasi emosi, pengelolaan energi, dan kemampuan beradaptasi. Selanjutnya, peserta menerapkan konsep melalui refleksi, self-assessment, studi kasus, simulasi, dan role play. Dengan pendekatan tersebut, peserta dapat menyusun strategi pribadi untuk mempertahankan efektivitas kerja dalam situasi yang dinamis.

Sasaran dan Tujuan Pelatihan

Pelatihan ini ditujukan bagi profesional yang menghadapi perubahan, tekanan, tuntutan target, maupun dinamika pekerjaan, terutama:

  • Supervisor dan Team Leader.
  • Manager dan Department Head.
  • Human Resources dan Learning & Development.
  • Project Manager dan Project Team.
  • Sales dan Marketing.
  • Customer Service.
  • Corporate Communication.
  • Operations dan General Affairs.
  • Profesional yang bekerja dalam lingkungan kerja dinamis.

Setelah mengikuti pelatihan, peserta mampu:

  1. Memahami konsep workplace resilience dan relevansinya bagi kinerja profesional.
  2. Mengenali faktor yang memengaruhi respons terhadap tekanan kerja.
  3. Mengidentifikasi pola respons pribadi ketika menghadapi situasi sulit.
  4. Mengembangkan pola pikir adaptif dalam menghadapi perubahan.
  5. Mengelola respons emosional dalam situasi kerja yang menantang.
  6. Menggunakan teknik pengelolaan tekanan secara konstruktif.
  7. Meningkatkan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan.
  8. Menjaga fokus dan prioritas ketika menghadapi tekanan.
  9. Membangun komunikasi yang tetap efektif dalam situasi sulit.
  10. Menyusun resilience action plan yang dapat diterapkan di tempat kerja.

Materi Pelatihan

Hari 1 — Building Workplace Resilience

Sesi 1. Workplace Resilience dan Performance

Pelatihan dimulai dengan memahami konsep resilience dalam konteks pekerjaan. Peserta kemudian mengidentifikasi hubungan antara tekanan, perubahan, respons individu, dan kualitas kinerja.

Selanjutnya, peserta mengevaluasi faktor yang dapat memperkuat atau menghambat kemampuan menghadapi situasi sulit. Dengan pemahaman tersebut, peserta memiliki dasar untuk mengembangkan strategi resilience yang sesuai dengan kebutuhan pekerjaan.

Materi:

  • Konsep workplace resilience.
  • Resilience dan kinerja profesional.
  • Tekanan dan tuntutan pekerjaan.
  • Perubahan dan ketidakpastian.
  • Faktor personal dan lingkungan kerja.
  • Resilience capacity.
  • Resilience mindset.
  • Karakteristik profesional yang resilien.

Praktik:
Peserta melakukan self-assessment terhadap kemampuan menghadapi tekanan dan perubahan.

Output:
Workplace Resilience Assessment.

Sesi 2. Stress Awareness dan Stress Response

Tekanan kerja dapat menghasilkan respons yang berbeda pada setiap individu. Karena itu, peserta mempelajari bagaimana tubuh, pikiran, emosi, dan perilaku merespons situasi yang dianggap menekan.

Kemudian, peserta mengidentifikasi pemicu tekanan yang sering muncul dalam pekerjaan. Proses ini membantu peserta memahami pola respons sebelum menentukan strategi pengelolaan yang sesuai.

Materi:

  • Stress awareness.
  • Workplace stressors.
  • Stress response.
  • Pemicu tekanan kerja.
  • Respons kognitif.
  • Respons emosional.
  • Respons perilaku.
  • Stress pattern identification.

Praktik:
Peserta memetakan pemicu dan pola respons terhadap tekanan kerja.

Output:
Workplace Stress Response Map.

Sesi 3. Emotional Regulation dan Self-Control

Kemampuan mengelola respons emosional membantu profesional mempertahankan kualitas interaksi ketika menghadapi tekanan. Oleh sebab itu, peserta mempelajari teknik mengenali emosi, mengelola respons, dan menjaga kontrol diri dalam situasi kerja.

Selanjutnya, peserta berlatih merespons situasi sulit dengan pendekatan yang lebih terukur. Dengan demikian, peserta dapat mengurangi respons impulsif yang berpotensi mengganggu komunikasi dan pengambilan keputusan.

Materi:

  • Emotional regulation.
  • Self-awareness.
  • Emotional triggers.
  • Self-control.
  • Emotional response management.
  • Pause and response technique.
  • Constructive emotional expression.
  • Regulasi emosi dalam komunikasi kerja.

Praktik:
Role play menghadapi situasi kerja yang memicu tekanan emosional.

Output:
Emotional Regulation Response Plan.

Sesi 4. Adaptive Mindset dan Change Readiness

Perubahan membutuhkan kemampuan untuk menyesuaikan cara berpikir dan cara bekerja. Karena itu, peserta mempelajari perbedaan antara respons reaktif dan respons adaptif ketika menghadapi perubahan.

Selanjutnya, peserta mengevaluasi pola pikir yang dapat membantu mereka melihat perubahan sebagai situasi yang perlu dikelola secara aktif. Pendekatan ini membantu peserta membangun kesiapan menghadapi perubahan di lingkungan kerja.

Materi:

  • Adaptive mindset.
  • Change readiness.
  • Respons terhadap perubahan.
  • Growth-oriented thinking.
  • Cognitive flexibility.
  • Mengelola ketidakpastian.
  • Learning agility.
  • Adaptasi terhadap perubahan pekerjaan.

Praktik:
Simulasi menghadapi perubahan target, proses, atau kondisi kerja.

Output:
Adaptive Mindset Action Sheet.

Hari 2 — Resilient Performance dan Workplace Application

Sesi 5. Energy Management dan Sustainable Performance

Resilience membutuhkan kemampuan menjaga energi agar kinerja tetap stabil dalam jangka panjang. Karena itu, peserta mempelajari hubungan antara beban kerja, prioritas, energi, fokus, dan produktivitas.

Kemudian, peserta mengevaluasi kebiasaan kerja yang memengaruhi kapasitas mereka dalam menghadapi tuntutan pekerjaan. Berdasarkan evaluasi tersebut, peserta menyusun strategi pengelolaan energi yang lebih realistis.

Materi:

  • Energy management.
  • Workload management.
  • Prioritas pekerjaan.
  • Focus management.
  • Pengelolaan waktu dan energi.
  • Recovery strategy.
  • Sustainable performance.
  • Work rhythm.

Praktik:
Peserta menyusun energy management plan berdasarkan pola kerja masing-masing.

Output:
Personal Energy Management Plan.

Sesi 6. Resilient Communication dalam Situasi Sulit

Situasi penuh tekanan dapat memengaruhi cara seseorang menyampaikan pesan dan merespons orang lain. Oleh karena itu, peserta mempelajari cara mempertahankan komunikasi yang jelas, tenang, dan konstruktif dalam situasi sulit.

Selanjutnya, peserta melakukan simulasi percakapan yang melibatkan tekanan, perbedaan kepentingan, atau perubahan mendadak. Latihan tersebut membantu peserta meningkatkan kemampuan komunikasi ketika kondisi kerja tidak ideal.

Materi:

  • Resilient communication.
  • Komunikasi dalam situasi tekanan.
  • Active listening.
  • Assertive communication.
  • Difficult conversation.
  • Feedback under pressure.
  • Pengelolaan konflik komunikasi.
  • De-escalation communication.

Praktik:
Role play menghadapi percakapan sulit di tempat kerja.

Output:
Resilient Communication Script.

Sesi 7. Problem Solving dan Decision Making Under Pressure

Tekanan dapat memengaruhi cara profesional menganalisis informasi dan mengambil keputusan. Karena itu, peserta mempelajari cara mempertahankan struktur berpikir ketika menghadapi masalah yang membutuhkan respons cepat.

Kemudian, peserta berlatih menentukan prioritas, mengevaluasi alternatif, dan mengambil keputusan dalam kondisi terbatas. Dengan demikian, peserta dapat tetap menggunakan pendekatan rasional ketika situasi menuntut respons segera.

Materi:

  • Decision making under pressure.
  • Problem solving under pressure.
  • Prioritas masalah.
  • Rapid assessment.
  • Evaluasi alternatif.
  • Risiko dan konsekuensi.
  • Decision bias.
  • Action-oriented decision making.

Praktik:
Simulasi pengambilan keputusan dalam situasi tekanan.

Output:
Decision Under Pressure Framework.

Sesi 8. Personal Resilience Action Plan

Pada sesi terakhir, peserta mengintegrasikan seluruh pembelajaran menjadi strategi penguatan resilience di tempat kerja. Peserta menentukan area yang perlu diperkuat berdasarkan hasil self-assessment dan pengalaman selama pelatihan.

Selanjutnya, peserta menetapkan tindakan, kebiasaan, indikator, dan waktu penerapan. Dengan demikian, peserta memiliki rencana konkret untuk mempertahankan kinerja ketika menghadapi tekanan dan perubahan.

Materi:

  • Personal resilience strategy.
  • Resilience goals.
  • Prioritas pengembangan.
  • Behavior change plan.
  • Action planning.
  • Indikator perkembangan.
  • Progress monitoring.
  • Continuous improvement.

Praktik:
Workshop penyusunan rencana penguatan resilience di tempat kerja.

Output:
Personal Resilience Action Plan.

Metode Pelatihan

Pelatihan menggunakan komposisi 40% konsep dan 60% praktik. Pendekatan tersebut membantu peserta memahami prinsip resilience sekaligus menghubungkannya dengan tekanan, perubahan, dan situasi kerja yang nyata.

Pada tahap awal, fasilitator menggunakan interactive presentation, diskusi, refleksi, dan self-assessment. Selanjutnya, peserta menerapkan konsep melalui studi kasus, workshop, simulasi, role play, latihan komunikasi, dan problem solving.

Metode pembelajaran meliputi:

  • Interactive presentation.
  • Diskusi kelompok.
  • Studi kasus.
  • Self-assessment.
  • Refleksi individu.
  • Workshop.
  • Simulasi.
  • Role play.
  • Problem-solving exercise.
  • Peer feedback.
  • Presentasi hasil kerja.

Outcome Pelatihan

Pada akhir pelatihan, peserta memiliki kemampuan untuk mengenali tekanan kerja, mengelola respons emosional, menyesuaikan diri terhadap perubahan, serta mempertahankan kualitas komunikasi dan pengambilan keputusan dalam situasi yang menantang.

Peserta juga menghasilkan perangkat kerja yang dapat digunakan setelah pelatihan, yaitu:

  • Workplace Resilience Assessment.
  • Workplace Stress Response Map.
  • Emotional Regulation Response Plan.
  • Adaptive Mindset Action Sheet.
  • Personal Energy Management Plan.
  • Resilient Communication Script.
  • Decision Under Pressure Framework.
  • Personal Resilience Action Plan.
LOKASI

TANGERANG, JAKARTA, ONLINE

TANGGAL

6–7 Oktober, 3–4 November, 8–9 Desember

Ulasan

Belum ada ulasan.

Jadilah yang pertama memberikan ulasan “Resilience Skills in the Workplace”

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *